Rabu, 31 Agustus 2011

Resiko murai batu tangkapan hutan (Muda hutan)

Murai batu adalah burung yang banyak penggemarnya, sehingga di daerah Aceh dan sekitarnya saat ini berbagai cara dilakukan untuk dapat menangkap sebanyak mungkin murai di hutan. Namun murai batu hasil tangkapan atau kadang ada tipe MH (Muda hutan) diperoleh dengan cara yang nekat, misal :

  1. Murai batu Muda Hutan (MH) hasil pancingan, cara menangkap murai batu yang satu ini memang tergolong mengutamakan tampilan fisik luar. Artinya Murai batu hasil pancingan yang rusak biasanya dari sisi luka di tenggorokan, namun bulu termasuk ekor bisa saja tetap mulus
  2. Murai batu Muda Hutan (MH) hasil penggunaan obat kimia. Ini jelas membahayakan untuk murai batu itu sendiri jika tidak dipantau kadar kimianya, memang awalnya mencampur makanan hidup dengan kimia beracun kadar rendah, agar murai lemas/ pingsan/terbius, namun jika tertelan cukup banyak perlu penanganan khusus.
  3. Murai batu Mudah hutan hasil lem pemikat/pulut dan pikat jaring. Secara umum ini lebih sering muncul di pasaran, dari pada Murai batu hasil pancingan dan obat kimia, ini lebih menjadi pilihan karena yang rusak kebanyak dari sisi bulu2nya, namun harus diingat pada prinsipnya murai batu hasil pulut/lem pemikat dan jaring pikat, bisa merusak murai dari sisi tingkat stessnya yang tinggi, dan traumatis.
Namun semua ini memang tidak bisa diukur kadar resikonya, karena memang masing-masing kasus dari cara penangkapan dan kondisi murai batu cukup berpengaruh terhadap masa depan Murai batu hasil tangkapan hutan. Murai batu muda hutan sebaiknya dirawat dengan baik, agar tetap lestari murai batu Indonesia


0 komentar:

Posting Komentar